Increase Your Knowledge :)


Sabtu, 05 Desember 2015

Arya Wedakarna : Masa Muda, Investasi Tiada Tara


Siapa bilang kalau masa muda seharusnya hanya dinikmati dengan bersenang-senang? Arya Wedakarna, salah satu alumnus SMAN 1 Denpasar ini berhasil membuktikan bahwa meraih kesuksesan tidak perlu menunggu datangnya masa tua. Terbukti dari pribadinya yang berhasil mengumpulkan ratusan prestasi, sejak usianya masih terbilang belia.
Ditemui di Sukarno Center beberapa waktu lalu, Arya sedikit berbagi mengenai kisah suksesnya selama menempuh pendidikan di Smansa sampai dengan menjadi pribadinya yang sekarang. Laki-laki kelahiran Denpasar, 23 Agustus 1980 ini kini berprofesi sebagai salah satu anggota DPD RI, anggota MPR RI, Rektor Universitas Mahendratta, Presiden of Sukarno Center, serta ketua partai PNI Marhaenisme Bali. “Karakter saya telah terbentuk semenjak memasuki SMA, saya selalu berambisi menjadi sosok yang lain daripada yang lain. Saya mencoba mewujudkan ambisi tersebut dengan terus aktif mengikuti berbagai kegiatan organisasi,” kenangnya.
Alumnus Smansa tamatan 1998 ini mengaku keberhasilannya yang sekarang tidak bisa terlepas dari peran Smansa. “Lewat dukungan guru-guru serta teman-teman di Smansa, saya dapat terus mengembangkan potensi yang ada dalam diri saya. Adapun sewaktu SMA saya mengikuti ekstrakurikuler Pramuka dan GKSS. Saya juga berhasil meraih beberapa prestasi dalam bidang MC, penyiaran radio, peragaan busana, serta menjadi cover boy majalah. Selama tiga tahun bersekolah di Smansa, kurang lebih terdapat 100 piala yang sudah saya kumpulkan,” tutur Arya.
Adapun setelah lulus SMA, Arya melanjutkan studinya ke Universitas Trisakti Jakarta, jurusan manajemen transportasi udara. Selanjutnya, ia melanjutkan jenjang strata dua pada usia 22 tahun dan jenjang strata tiga pada usia 24 tahun pada jurusan ilmu pemerintahan. Melalui masa pendidikannya yang singkat itulah, Arya kini dikenal sebagai tokoh fenomenal di seluruh Indonesia, melalui gelarnya sebagai doktor, rektor, serta senator termuda di Indonesia.
Ditanya mengenai perbedaan Smansa dahulu dengan yang sekarang, Arya mengaku merindukan pemandangan Smansa yang dahulu. “Sekarang bangunan Smansa sudah megah serta modern. Jujur saya merindukan Smansa yang dahulu saat masih berlantai satu. Lebih humble dan terkesan metaksu. Tapi kalau dari segi siswa-siswanya sih tidak ada perubahan, Smansa tetap jadi sekolah paling berprestasi dan paling keren di Bali,” ungkapnya bangga.

Kedepannya, Arya memiliki saran-saran tersendiri bagi siswa Smansa ke depan. “Ingat selalu pesan Bung Karno, kalau kamu ingin menjadi orang hebat, maka masuklah ke lembaga yang hebat serta bergaulah dengan orang-orang yang hebat. Adapun ciri lembaga hebat ini telah saya temukan dalam SMAN 1 Denpasar. Semoga kedepannya semakin banyak orang-orang sukses yang lahir dari didikan Smansa,” ujarnya sembari menutup wawancara (nit/red.SJC)
Artikel ini dimuat dalam majalah Media Karmany edisi 2015 oleh Smansa Journalist Club

Tidak ada komentar:

Posting Komentar